Ya Habibi Ya Muhammad (1)

Mari Beramal

(Buku Catatan Sejarah Rasulullah saw)

hanya ingin upload foto buku Catatan Sejarah Rasulullah saw. Semoga besok bisa mulai menulis ulasan tiap bab buku ini.

Bismillahirrahmanirrahim🙂

Lihat pos aslinya

Oleh-oleh dari Haji

🙂❤

Mari Beramal

Orang pergi Haji itu kan untuk memenuhi panggilan Allah. Mengunjungi Baitullah untuk mendapatkan Allah 100%. Juga untuk berziarah ke makam Nabi Saw di Madinah untuk mendapatkan Rasulullah saw 100%.

Bila seorang manusia sudah mendapatkan Allah dan Rasulullah 100% di hatinya maka dunia tidak akan dapat menipu daya lagi. Seluruh hidup dan matinya hanya untuk Allah dan Rasul.

Pulang dari Haji, oleh-oleh yang dibawa adalah Allah dan Rasul. Allah dan Rasul dibagi-bagikan kepada masyarakat di kampung halamannya.

Akan tetapi, Haji di akhir zaman ini sudah berubah menjadi ajang melancong dan belanja. Membawa oleh-oleh berupa makanan dan berbagai jenis barang itu yang menjadi tumpuan.  Sampai-sampai kuota 32kg yang diberikan tak lagi mencukupi. Akhirnya, terjadilah pemubaziran karena barang belanjaan harus ditinggalkan.

(barang bawaan yang harus ditinggalkan di Jeddah, lihat: link)

Semoga tahun depan tiada lagi kejadian ini. Semoga tahun depan bukan hanya jasad yang pergi haji, tetapi ruh pun turut pergi bersama…

Lihat pos aslinya 19 kata lagi

Antara Pria dan Wanita

pasangan

Di dalam Al Qur’an, Allah Swt. Berfirman berkaitan dengan keberadaan manusia, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, sebagai berikut :

 

“ Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. (QS. Al-Hujurat 49:3).

 

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap tuhanmu yang maha pemurah? (QS. Al-Infithar 82; 6).

 

“Binasalah manusia, alangkah besar kekafirannya. Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani Allah Swt. Menciptakannya dan kemudian menentukannya. (QS. ‘Abasa 80: 17-19).

 

Allah Swt. Menyerukan kepada segenap umat manusia dengan berbagai macam taklif. Manusia telah dijadikan-Nya sebagai sasaran khitab (seruan) dan taklif. Kepada Manusialah Allah Swt. menurunkan syariatnya. Dia akan membangkitkan manusia dan menghisab amal perbuatannya. Dia juga telah menciptakan surga dan neraka untuk manusia. Jadi, Allah Swt. Telah menjadikan manusia, bukan hanya pria atau wanita saja, sebagai objek pelaksanaan berbagai macam taklif.

 

Allah Swt. menciptakan manusia, baik pria maupun wanita, dengan suatu fitrah yang khas, yang berbeda dengan hewan. Wanita adalah seorang manusia, sebagaimana halnya pria. Masing-masing tidak dapat dibedakan dari aspek kemanusiaannya. Yang satu tidak melebihi yang lainnya dalam hal ini. Allah Swt. telah mempersiapkan kedua-duanya untuk mengarungi kancah kehidupan dunia sesuai dengan batas-batas kemanusiaannya. Pria dan wanita telah ditakdirkan untuk hidup bersama dalam sebuah masyarakat. Allah Swt. juga telah menetapkan bahwa kelangsungan keturunan manusia bergantung pada interaksi kedua lawan jenis tersebut, selain keberadaan keduanyapada setiap masyarakat. Oleh karena itu kedua – duanya harus sama- sama dipandang sebagai manusia, lengkap dengan segala kelebihan yang dimilikinya dan segala kemmpuan yang mendukung kehidupannya.

 

Allah Swt. telah menciptakan pada masing-masing pihak sebuah potensi dinamis  (thaqah hayawiyyah). Potensi tersebut berupa dorongan kebutuhan jasmani (hajat udhowiyyah) seperti rasa lapar, rasa dahaga, atau buang hajat; serta berbagai potensi naluriah/ instingtif  (gharaiz, bentuk jamak dari gharizah ) seperti naluri untuk mempertahankan kehidupan, naluri seksual untuk melestarikan keturunan, dan naluri beragama (religioustas). Ternyata, dorongan kebutuhan jasmani maupun naluri-naluri ini ada pada masing-masing jenis kelamin. Allah Swt. juga menjadikan pada diri keduanya kekuatan berfikir. Akal yang ada pada seorang pria ternyata ada pula pada wanita, karena Allah Swt. memang menciptakan akal untuk seluruh manusia, bukan hanya untuk pria atau hanya untuk wanita saja.

 

Hanya saja, sekalipun naluri seksual bisa dipenuhi oleh seseorang dengan sesama jenisnya pria dengan pria atau wanita dengan wanita dan bisa pula dipenuhi dengan binatang atau dengan sarana-sarana lain, tetapi cara demikian tidak akan mungkin mengantarkan manusia pada tujuan yang telah ditentukan Allah Swt. Pemenuhan tersebut tidak lain hanya melalui satu cara, yaitu pemenuhan naluri seksual wanita oleh seorang pria atau sebaliknya. Oleh karena itu, hubungan pria dan wanita atau sebaliknya, dalam kaitannya dengan naluri seksual ini, tidak lain merupakan hubungan yang bersifat alamiah dan bukan merupakan hal yang aneh. Dapat dikatakan, hubungan tersebut merupakan hubungan dasar yang dapat mewujudkan tujuan penciptaan naluri ini, yaitu melestarikan keturunan manusia. Artinya, jika kedua lawan jenis (pria-wanita) ini saling berhubungan, hal ini sangat alami, bukan hal yang aneh; bahkan merupakan kelaziman demi keberlangsungan keturunan manusia. Namun demikian, melepaskan kendali naluri ini secara bebas merupakan tindakan yang sangat membahayakan bagi diri manusia dan kehidupan masyarakat. Sebab, tujuan dijadikannya naluri seksual tiada lain  untuk melahirkan anak demi melestarikan keturunan.

 

Atas dasar itu, pandangan terhadap naluri ini harus difokuskan pada tujuan dan penciptaannya pada diri manusia, yaitu untuk melestarikan keturunan, sehingga dalam hal ini tidak ada perbedaan antara pria ataupun wanita.

 

Sementara itu, rasa lezat dan kenikmatan seksual yang diperoleh dari pemenuhan naluri ini adalah bersifat alamiah dan lazim, baik diperhatikan oleh pelakunya ataupun tidak. Oleh karena itu, tidak benar apabila dikatakan bahwa, rasa lezat dan kenikmatan harus dijauhkan dari naluri seksual. Sebab, rasa lezat dan kenikmatan seksual ini memang tidak berasal dari persefsi seseorang, melainkan sesuatu yang alami dan lazim. Rasa ini juga tidak bisa dihilangkan, karena menghilangkannya adalah mustahil. Namun demikian, persepsi terhadap kenikmatan seksual itu sendiri memang berasal dari pemahaman manusia terhadap pemenuhan naluri dan tujuan diciptakannya naluri itu.

 

Disinilah seharusnya, manusia memiliki pemahaman tertentu mengenai gharizah an-nau’ (naluri seksual untuk melestarikan keturunan) dan tujuan penciptaannya dalam diri manusia. Hal ini akan membentuk pemahaman yang khas mengenai naluri tersebut yang telah Allah Swt. ciptakan dalam diri manusia, yaitu pemahaman yang membatasi hubungan pria dan waniata atau sebaliknya. Disamping itu, akan terbentuk pula pemahaman khas terhadap hubungan pria dan wanita, yaitu hubungan biologis atau hubungan seksual antara dua lawan jenis, sehingga akan mengarah pada tujuan penciptaan naluri ini, yaitu melestarikan keturunan.

 

Pandangan seperti inilah yang dapat mewujudkan pemenuhan naluri ini untuk melestarikan keturunan, sekaligus mampu mewujudkan tujuan penciptaan naluri ini, serta menciptakan ketentraman bagi masyarakat yang mengambil dan memiliki pandangan yang khas ini.

 

Pandangan masyarakat terhadap hubungan antara dua lawan jenis, yaitu hubungan seksual antara pria dan wanita, sebagai hubungan untuk meraih kenikmatan dan kelezatan semata-mata, harus diubah menjadi pandangan yang menganggap hubungan ini sebagai sesuatu yang alami dan pasti pada saat pemenuhan naluri ini. Pandangan tersebut juga harus terfokus pada tujuan penciptaan naluri tersebut. Pandangan seperti inilah yang mampu mempertahankan naluri seksual dan menempatkannya sesuai dengan tujuan yang benar. Pandangan seperti ini pula yang akan memberikan kesempatan kepada manusia untuk melaksanakan segala aktivitasnya dan menyelesaikan segala urusannya yang dapat mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya.

 

Oleh karena itulah, setiap orang, mau tidak mau, harus memiliki pemahaman terhadap pemenuhan naluri seksual ini-sebagai naluri untuk melestariakan keturunan-serta terhadap tujuan penciptaan naluri tersebut. Pada tingkat masyarakat, mau tidak mau, harus ada suatu peraturan yang dapat menghapuskan pada diri manusia pandangan yang keliru terhadap hubungan lawan jenis dan anggapan bahwa hubungan tersebut sebagai satu-satunya perkara yang harus diperhatikan. Peraturan tersebut juga harus mampu mempertahankan hubungan kesjasama yang saling membantu antara pria dan wanita. Sebab,tidak akan pernah tercipta kemaslahatan apapun pada komunitas masyarakat, kecuali dengan adanya kerjasama harmonis antara pria dan wanita; dengan alasan, keduanya merupakan “dua saudara” yang saling mendukung karena adanya sifat kasih sayang dan saling menyayangi.

 

Atas dasar itu, upaya untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap hubungan pria-wanita secara menyeluruh harus harus ditekankan sehingga mampu menepis pemahaman yang semata-mata menumpu pada hubungan seksual. Hubungan tersebut harus dijadikan sebagi sesuatu yang alami dan lazim pada saat pemenuhan, sehingga dapat menghapus pemahaman yang membatasi  hubungan itu sebagai hubungan yang bertumpu pada kenikmatan dan kelezatan seksual semata. Hubungan tersebut juga harus dijadikan sebagi pemahaman yang ditujukan demi kemaslahatan bersama, bukan dilihat dari sisi jenis kelamin masing-masing.  Pandangan ini harus selalu disandarkan pada ketakwaan kepada Allah Swt., bukan untuk mencari kenikmatan dan menuruti syahwat. Artinya, pandangan tersebut tidak menggingkari adaya kenikmatan dan kelezatan hubungan seksual, tetapi mengganggapnya sebagai suatu bentuk kenikmatan yang dibenarkan oleh syariat; mampu mewujudkan keturunan; dan selaras dengan cita-cita luhur seorang Muslim, yaitu mendapatkan keridhaan Allah Swt.

 

Ayat-ayat Al-Quran sangat memperhatikan hubungan suami-istri, yakni pada tujuan penciptaan naluri untuk melanjutkan keturunan. Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa pada dasarnya, naluri seksual diciptakan agar manusia menjalani  kehidupan secara berpasangan sebagai suami-istri dan sekaligus untuk melanjutkan keturunan. Dengan kata lain, naluri ini semata-mata diciptakan Allah Swt. demi kehidupan suami-istri saja. Banyak ayat Al-Quran menjelaskan keterangan demikian dengan berbagai cara dan makna yang beragam agar pandangan masyrakat terhadap hubngan pria dan wanita terbatas pada kehidupan suami-istri saja, bukan pada hubungan seksual pria dan wanita secara umum. Allah Swt. berfirman:

 

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa. Dari jiwa itu Allah menciptakan istrinya dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”(QS an-Nisa’[4]: 1).

 

Dialah yang menciptakan kalian dari diri yang satu. Darinya, Dia menciptakan istrinya agar dia merasa senang kepadanya. Kemudian, setelah dicampurinya, istrinya mengandung kandungan yang ringan dan dia terus merasa ringan (beberapa waktu). Selanjutnya, tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) berdoa kepada Allah, Tuhan mereka, seraya berkata, “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang salih, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”(QS al-A’raf [7]: 189).

 

“Allah menjadikan bagi kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri dan menjadikan bagi kalian dari istri-istri kalian itu sejumlah anak dan cucu.”

 

(QS an-Nahl [16]: 72).

 

“Diantara  tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari diri kalian sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dia pun menjadikan diantara kalian rasa welas-asih.”

 

(QS ar-Rum [30]: 11).

 

“Dia Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri.”(QS asy-Syura[42]: 11).

 

“Sesungguhnya Dia menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani pada saat dipancarkan.”(QS an-Najm [53]:45-46).

 

“Kami telah menjadikan kalian berpasang-pasangan.”(QS an-Naba’ [78]: 8).

 

Ayat-ayat tersebut menggambarkan betapa Allah Swt. sangat menekankan penciptaan laki-laki dan perempuan sebagai mahluk yang saling berpasangan dalam konteks kehidupan suami-istri. Hal ini diulang-ulang sehingga menjadikan pandangan terhadap pria dan wanita hanya bertumpu pada kehidupan suami-istri atau pada upaya untuk melahirkan anak demi melanjutkan keturunan.[]

 

 

 

Kado Terindah

rose flower

ada 8 kado yang paling indah :

Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat, dan tak perlu membeli ! Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.

1. KEHADIRAN

Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto, email atau faks. Namun dengan berada disampingnya. Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagian.

2. MENDENGAR

Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketahui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu.  Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.

3. D I A M

Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai Untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.

4. KEBEBASAN

Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, “Kau bebas berbuat semaumu.” Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

5. KEINDAHAN

Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari ! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.

6. TANGGAPAN POSITIFTanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat,berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf ), adalah kado cinta yang sering terlupakan.

7. KESEDIAAN MENGALAH

Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado “kesediaan mengalah” Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna didunia ini.

8. SENYUMAN

Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan. pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi ?

10 Jawaban Kepada Saudariku Untuk Segera Berhijab

I Love Islam

Penulis: Wido Q Supraha

‘Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu.’ (Q.S. an-Nisa:59)

‘Orang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.’ (H.R. At Thabrani)

Bahwa seorang mukmin dapat mengenali kekurangannya dari mukmin lainnya, sehingga ia laksana cermin bagi dirinya.

Islam juga menganjurkan dan mengajak penganutnya agar sebagian mereka mencintai sebagian yang lain, dimana diantaranya engkau berharap agar saudaramu masuk Surga dan dijauhkan dari api Neraka. Tak sebatas mengharap, namun berupaya keras dan maksimal menyediakan berbagai sarana dari hal-hal yang membahayakan dan merugikannya, di dunia maupun di akhirat kelak.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala, dalam Q.S. Al Ahzab : 59 berfirman :

‘Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.’

‘Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’ (Q.S. An Nur : 31)

Dalam perjalanan hidup saya, saya mendapati beberapa alasan yang senantiasa terulang ketika ajakan untuk berhijab dikumandangkan. Oleh karenanya, semoga risalah ini dapat bermanfa’at bagi saudariku sekalian, dan memperteguh mereka yang masih ragu-ragu dalam menunaikan kewajiban utama muslimah ini. Alasan-alasan yang sering saya temui antara lain :

  1. 01.    Tubuh ini adalah ciptaan Allah, dan keindahannya bukan untuk ditutupi, melainkan diperlihatkan.

Saudariku, begitu banyak nikmat yang diberikan Allah kepada kita, baik yang kita tidak sadari hingga yang terlihat di depan mata kita. Cara mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah SWT, yang menciptakan diri kita adalah dengan beribadah menurut tuntunanNya, dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada segala ketentuan dan aturanNya. Karena ketidakpatuhan kita akan menjebak kita ke dalam perangkap penolakan/pembangkangan atas Rabb kita.

Berfirman Allah SWT dalam Q.S Al Baqarah : 216,

‘Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.’.

Pernahkah kita bayangkan manakala Allah mencabut nikmat kecantikan yang dititipkan kepada kita? Pernahkah kita sadari bahwa kecantikan itu adalah ujian dari Allah, sejauh mana ia bersyukur atas kecantikannya itu? Pernahkan kita renungi manakala Allah meminta pertanggungjawaban dari nikmat kecantikan yang telah dianugerahkanNya, sementara kita menggunakannya tidak berlandaskan syari’at Allah?

Dan jika engkau menjawab, ‘Kecantikah itu untuk diperlihatkan, bukan untuk ditutupi, maka kembali kita perlu bertanya :

–       Relakah engkau kecantikanmu dinikmati oleh orang yang dekat dan yang jauh darimu?

–       Relakah engkau menjadi objek yang dilihat, bagi semua orang, yang jahat maupun yang terhormat?

–       Bagaimana engkau bisa menyelamatkan dirimu dari mata para pria?

–       Maukah kamu jika dirimu dihargai serendah itu, sementara engkau bisa menjadi seorang wanita yang mulia di mata Allah SWT?

  1. 02.    Aku takut dijauhi teman-teman, dikeluarkan dari kerjaan (kehilangan mata pencaharian), dan mendapat posisi yang rendah.

Saudariku, rizki ada di tangan Allah.

Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini telah diberikan kadar rizkinya, tinggal apakah kita mau menjemputnya ataukah tidak.

Telah banyak terjadi di sekitar kita cerita-cerita nyata kegigihan mereka pada prinsipnya, yang seharusnya semakin memperkuat keyakinan kita semua, bahwa rizki bukan ditangan manajemen kantor, namun berada di tangan Allah. Kekayaan yang kita miliki hari ini, kemuliaan di hadapan manusia yang kita rasakan dapat dengan hilang dengan amat segera, manakala Allah mencabutnya.

Berfirman Allah SWT dalam Q.S. Ali ‘Imran : 26,

‘Katakanlah: ‘Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’

Dan ingatlah bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hambaNya yang berusaha bertaqwa dan istiqomah berpegang teguh memperjuangkan prinsip keislamannya. Ingatlah firman Allah SWT dalam Q.S. Ali ‘Imran : 195,

‘Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.’

Dalam ayat lain, Allah melanjutkan,

‘Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ (Q.S. Al A’raaf : 170)

‘Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.’ (Q.S. Hud : 115)

Adapun ketakutan dijauhi teman-teman, adalah ketakutan yang seharusnya tidak terjadi. Karena seorang mukmin seharusnya menjadi tenang dan tentram dengan Allah bersamanya. Tidak ada lagi yang dia dambakan kecuali kedekatan dan kecintaan Allah padanya.

  1. 03.    Saya senantiasa menjaga amalan ibadah saya yang lain kok, kecuali hijab, saya belum mampu untuk memakainya.

Saudariku, kalau memang Anda sudah melakukan amalan-amalan terpuji, yang berpangkal dari iman, dan kepatuhan pada perintah Allah, serta takut siksaanNya jika meninggalkan kewajiban itu, mengapa Anda beriman kepada sebagian dan tidak beriman kepada sebagian yang lain, padahal sumber perintah itu hanya satu?

Sebagaimana shalat yang selalu Anda jaga adalah sebuah kewajiban, maka hijab pun demikian. Kewajiban mengenakan hijab tidak diragukan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Berfirman Allah SWT dalam Q.S. Al Baqarah:85 ketika mencerca Bani Israil :

‘Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tidaklah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang amat pedih. Allah tidak lengah atas apa yang kamu perbuat’.

Padahal …………… digambarkan oleh Rasulullah SAW,

‘Sesungguhnya penghuni Neraka yang paling ringan adzabnya pada hari Kiamat adalah orang yang diletakkan kedua telapak kakinya dua bara api, dari dua bara api ini otaknya mendidih, sebagaimana periuk yang mendidih dalam bejana besar yang dipanggang dalam kobaran api.’ (H.R. Bukhari)

Jika seperti itu adzab yang paling ringan di hari Kiamat, maka bagaimana adzab bagi orang yang diancam Allah dengan adzab yang pedih, sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas, yang beriman kepada sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain?

  1. 04.    Saya belum siap berperilaku dan berakhlak sebagaimana muslimah yang berjilbab. Yang berjilbab saja perilakunya tidak sesuai dengan jilbabnya.

Saudariku, kewajiban harus diutamakan diatas segalanya.

Berfirman Allah SWT, dalam kumpulan kalam Ilahinya, Q.S. Al Baqarah:208,

‘Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.’

Tunaikanlah kewajibanmu dahulu kepada Penciptamu, dan kemudian secara perlahan memperbaiki segala akhlak buruk yang masih sulit engkau tinggalkan. Apakah engkau tidak sadar, dengan semakin lamanya engkau tunda berhijab, maka sedemikian menumpuklah dosa besar yang terus menggunung, yang harus dibalas dengan siksaan Allah, kuatkah engkau menjalaninya? Dosa yang terus mengalir dari hari ke hari, semakin memperberat timbangan dosa kita. Segeralah kita menuju jalan Allah.

Sementara bagi mereka yang telah berhijab, namun perilakunya tidak sesuai dengan hijabnya, maka berprasangka baiklah, bahwa minimal ia telah menunaikan tugasnya sebagai hamba Allah, dalam hal menutup auratnya, sedangkan engkau masih enggan menjalaninya. Adapun sifat kurang baiknya adalah tugas kita bersama untuk memperbaikinya, dengan nasihat-nasihat yang baik, dan ikhlas, karena boleh jadi ia belum mengetahui ilmunya, sementara ia baru mendapatkan ilmu wajibnya berhijab, dan ia segera menunaikannya.

Adapun kesiapan diri, maka sifatnya amatlah abstrak. Tidak ada parameter pasti yang mampu mengukur tingkat kesiapan seseorang, kecuali kalimat Sami’na wa Atho’na, sebagai implementasi Laa Ilaaha Illa Allah (Tidak ada yang lebih aku cintai kecuali Allah semata, hidupku hanyalah untuk Allah, Yang Menciptakanku, dan kepadaNya kelak aku akan kembali.

Saudariku, harus bisa kita bedakan antara perintah manusia dan perintah Tuhan. Perintah manusia bisa salah dan benar. Imam Malik r.a. pernah berkata, ‘Setiap orang bisa diterima ucapannya dan juga bisa ditolak, kecuali (perkataan) orang yang ada di dalam kuburan ini (Rasulullah)’.

Jika perintah itu datang dari Allah di dalam kitabNya, atau melalui NabiNya, maka tidak ada bagi manusia untuk mengatakan ‘saya belum mantap’, padahal Dia Maha Mengetahui bahwa perintah itu untuk kebaikan kita, dan salah satu sebab tercapainya kebahagiaan kita.

Padahal Allah menyukai orang-orang yang berkata, ‘Sami’na wa atho’na, ghufronaka rabbanaa wa ilaykal mashiir (Q.S. Al Baqarah:285)’, (Kami dengar dan kami segera ta’at, ampuni kami ya Allah, kepadaMulah tempat kembali kami), dan padahal Allah membenci orang-orang yang berkata, ‘Sami’na wa ‘ashoina (Q.S. Al Baqarah:93/Q.S. Annisa:46)’, (Kami dengar tapi kami tidak mena’atinya).

Alangkah hinanya kita ketika kita tidak menuruti keinginan Yang Menciptakan kita. Sementara ucapan ‘Aku belum mantap’ adalah ucapan yang berbahaya, karena bermakna ia meragukan kebenaran perintah tersebut, dan bermakna ia tidak mencintai Penciptanya, Rabbul ‘Alamin.

Berfirman Allah SWT dalam Q.S. Al Ahzab : 36 :

‘Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi wanita mukminah, apabila Allah dan RasulNya telah menerapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.’

Begitu kerasnya Allah berfirman dalam ayat diatas, apakah kita tidak takut dimasukkan Allah dalam golongan orang-orang yang sesat?

  1. 05.    Saya belum dapat hidayah. Do’akanlah aku agar segera mendapat hidayah.

Saudariku, hidayah tidak datang dengan sendirinya. Hidayah membutuhkan pencaharian.

Dan bagaimanakah engkau mengetahui bahwa Allah belum memberimu hidayah? Apakah engkau mengetahui sesuatu yang ghaib yang ada dalam kitab yang tersembunyi (Al Lauh Al Mahfuzh), ataukah engkau mendapatkan bisikan dari golongan jin atau manusia?

Telah berfirman Allah SWT dalam Q.S. Muhammad:17,

‘Dan orang-orang yang meminta petunjuk, Allah (akan) menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.’

Ingatlah bahwa dalam hidayah, terdapat campur tangan dan usaha manusia, maka ikutilah petunjuk Allah agar engkau semakin dekat dengan hidayah Allah. Carilah sebab-sebab untuk mendapatkannya.

Berfirman Allah SWT dalam Q.S. Ar Ra’d:11,

‘Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.’

Fahamilah sunnatullah.

Wahai saudariku, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya akan engkau dapatkan dengan izin Allah. Banyaklah berdo’a kepada Allah, pilihlah teman yang shalihah, banyaklah membaca, pelajari dan renungilah Kitab Allah, ikutilah majelis-majelis dzikir dan ceramah-ceramah agama, dengarkanlah kaset-kaset pengajian, dan bacalah buku-buku tentang keimanan. Di sisi lain, hendaklah engkau terlebih dahulu meninggalkan hal-hal yang bisa menjauhkan dirimu dari datangnya hidayah, seperti teman yang tidak baik, bacaan-bacaan yang tidak bermanfa’at, tayangan-tayangan televisi yang buruk, dan hal-hal lainnya.

  1. 06.    Insya Allah saya akan berhijab setelah menikah kelak.

Saudariku, bagaimana mungkin engkau dapat memastikan sesuatu yang engkau pun belum yakin apakah usiamu sampai hingga menikah kelak ataukah tidak. Bagaimanakah jika engkau telah dipanggil Allah dalam keadaan belum berhijab? Tidakkah engkau takut mati dalam keadaan masih tidak beriman pada sebuah kewajiban Allah yang amat mendasar bagi seorang muslimah?

Bagaimana ketika hari ini kita telah berniat berbuat sebuah kebaikan yang kita telah tahu ilmunya, namun kita tunda karena beberapa alasan, namun ternyata di kemudian hari, usia kita tidak sampai merealisasikannya, karena Allah telah mencabut nyawa kita, maka bagaimana kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak? Kenapa kita menundanya? Kemana usia kita kita gunakan di dunia? Sejauh mana cinta kita pada Allah dan RasulNya?

Saudariku, kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sakit, tidak pula orang yang lanjut usia saja, tetapi juga orang-orang yang sehat wal afiat, orang dewasa, pemudi, bahwa sampai bayi yang masih menyusu pada ibunya. Banyak contoh yang dapat kita ambil dari kejadian di sekitar kita.

Dalam Kitaabun Nikah, Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits Rasulullaah SAW,

‘Wanita itu dinikahi karena empat hal. Yaitu karena harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang berpegang teguh dengan agama, (jika tidak) niscaya kedua tanganmu berlumur debu.’

Wanita yang shalihah untuk pria yang shalihah.

Boleh jadi, wanita yang terbiasa memperlihatkan kecantikan tubuhnya — yang dimaksudkan untuk menawan hati pria — malah membuat para pemuda enggan menikahinya, karena beranggapan, jika wanita tersebut berani melanggar salah satu perintah Allah, yaitu hijab, tidak menutup kemungkinan dia akan berani melanggar perintah-perintah yang lain. Karena syaithan memiliki banyak langkah.

  1. 07.    Sesungguhnya iman itu ada di hati, dan juga Allah Maha Tahu kalaupun nanti saya telah berniat untuk berhijab.

Saudariku, benar yang telah engkau katakan bahwa iman berada di dalam hati, sebagaimana sabda Rasulullaah SAW,

‘Taqwa itu ada disini, seraya menunjuk ke arah dadanya.’ (H.R. Muslim)

Namun jangan sampai salah dalam mengartikan hadits di atas. Penulis kitab Nuzhatul Muttaqin berkata, ‘Hadits ini menunjukkan pahala amal tergantung keikhlasan hati, kelurusan niat, perhatian terhadap situasi hati, kebenaran tujuan, dan kebersihan hati dari segala sifat tercela yang dimurkai Allah.’

Bahwa Rasulullah SAW tidak memaksudkan bahwa iman tidak akan sempurna kecuali hanya di dalam hati saja, tetapi amal perbuatan tetap harus diperlihatkan kepada Allah, sementara hati adalah benteng terakhir selamatnya perbuatan kita.

Bahwa telah sepakat jumhur ulama bahwa, ‘Keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pelaksanaan dengan anggota badan.’

Dan akan lebih jelas lagi ketika kita menemukan firman Allah dalam Q.S. al-Ankabut:1-3,

‘Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta.’

  1. 08.    Saya sangat ingin berhijab, tapi suami saya lebih suka dengan keindahan rambut saya ketika tidak berhijab, lebih cantik katanya.

Saudariku, ketaatan kepada Allah harus didahulukan daripada ketaatan kepada makhluk, siapapun dia. Setelah ketaatan kepada Allah, kedua orang tua lebih berhak untuk ditaati dari yang lainnya, selama itu bukan dalam kemaksiatan.

Bersabda Rasulullah SAW,

‘Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam kebaikan.’ (H.R. Bukhari dan Muslim)

‘Dan tidak boleh taat kepada makhluk dengan mendurhakai (bermaksiat) kepada al-Khaliq.’ (H.R. Ahmad)

Harus disadari bahwa halangan yang dihadapi merupakan ujian bagi setiap hamba, karena memang meraih Surga tidaklah semudah meraih Neraka.

Bagi sang suami, harus ada seseorang yang mampu menasihatinya agar bertaqwa kepada Allah dalam urusan keluarganya. Dan hendaknya ia bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepadanya isteri yang ingin menerapkan salah satu perintah Allah, yakni memakai pakaian sesuai ketentuan syari’at, sehingga menjaga keselamatan dirinya dari fitnah. Dan mengingatkan dia sebuah kalam Ilahi dalam Q.S. At Tahrim:6,

‘Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.’

Ayat diatas mendapat penegasan pula dari Rasulullah SAW, dalam haditsnya,

‘Seseorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.’ (H.R. Bukhari)

Sehingga patutkan bagi seorang suami untuk memaksakan kehendaknya agar sang isteri tidak menutup auratnya dengan sempurna sebagaimana mestinya?

Adapun bagi isteri, tetaplah untuk tidak menaati suami dalam kemaksiatan terhadap Allah, sampai kapanpun. Dan dalam tataran teknis, perhatikanlah adab sopan santun dan cara-cara yang hikmah dalam menyampaikannya kepada suami, bisa secara mesra, dan lemah lembut, dan tidak menggunakan kalimat-kalimat yang memancing emosi ataupun amarah, dan terkesan menggurui. Dan tetaplah tabah dan sabar menghadapi celaan, ejekan, dan hinaan, dan tidak boleh menyebabkan hubungan dengan suami menjadi retak. Hendaklah selalu meminta pertolongan Allah agar diberi keteguhan dalam prinsip, kemudahan dan jalan keluar dari kesulitan ini, kemudian meminta pertolongan sanak kerabat, dan kawan-kawan dekat suami. Senantiasalah membalas segala keburukan dengan kebaikan, dan pilihlah saat-saat yang tepat untuk dialog, dan sadarilah sekali lagi bahwa jalan ke Surga memang penuh dengan onak dan duri, dan tidak akan diberikan Allah kecuali setelah melewati kepayahan, kerja keras, dan tabah menanggung segala rintangan dan hambatan di jalan Allah.

  1. 09.    Kata orang tua saya, tidak berhijab lebih baik. Dan saya yakin orang tua selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya.

Saudariku, benar bahwa orang tua pasti selalu menginginkan yang terbaik buat anak puterinya. Namun, harus kita fahami, bahwa orang tua kita berpendapat akan sesuatu amat dilandasi oleh pemahamannya. Terkait masalah jilbab, amat boleh jadi, orang tua kita belum mendapatkan ilmunya, sejak kecilnya. Maka tugas kitalah secara perlahan-lahan menyadarkan orang tua kita, dan melakukan lobi-lobi internal, agar akhirnya menjadikan orang tua kita pendukung sejati niat kita untuk berhijab, dan bahkan mengikuti anaknya dalam berhijab. Subhanallah.

Nabi kita, Rasulullah SAW pernah bersabda,

‘Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan ditanya tentang yang dipimpinnya ….’ (H.R. Bukhari)

Seorang ayah adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan akan ditanya Allah di hari Kiamat tentang orang-orang yang berada dibawah kepemimpinannya. Hendaknya seorang ayah bertanya pada dirinya sendiri :

–       Berapa banyak pemuda yang telah tergoda oleh puterinya?

–       Seberapa jauh puterinya telah menyebabkan penyimpangan para pemuda?

–       Berapa banyak hinaan yang dilontarkan para pemuda kepadanya?

Semoga Allah senantiasa mengisi hati kita dengan cahayaNya yang tidak pernah padam, dan memenangkan kita dalam pertarungan kita melawan kejahatan syaithan, jin, dan manusia. Memerdekakan diri kita dari tawanan hawa nafsu, menuju alam kebebasan, kemuliaan, kehormatan, dan ketenangan, dan alam kesucian.

  1. 10.    Hijab hanyalah kebudayaan orang Arab, dan hijab tidak sesuai dengan mode masa kini.

Saudariku, memang benar bahwa kebanyakan budak wanita di masa Rasulullah tidak berhijab, dan sebagian dari hartawan di kalangan wanita mengenakan hijab. Tapi kita harus fahami sebuah kejadian menarik di Madinah ketika Surah Al Ahzab:59 diturunkan, dimana terjadi Peristiwa yang amat menghebohkan di Madinah. Kedua setelah MIRAS. Apakah itu? Bagaimana 10 tahun awal da’wah Rasulullaah di Makkah Al Mukarramah tidak pernah menyinggung masalah syari’at. Beliau hanya menekankan pada masalah tauhid dan aqidah. Karena memperkuat penyerahan diri manusia atas Penciptanya adalah yang paling utama. Membina keikhlasan dan kesungguhan (mujahadah) dalam mengusung kalimat ‘Laa ilaaha illallaah wa Muhammad Rasul Allah’ adalah sebuah keniscayaan. Sehingga kita lihat bersama, bagaimana setelah keimanan umat Islam di Madinah telah begitu kokohnya, dan begitu pasrahnya mereka akan aturan Allah, dan begitu cintanya mereka pada Rasul Allah, ketika turun ayat Al Qur’an yang memerintahkan kaum wanita untuk mengenakan kerudung hingga ke dadanya, dan tidak memperlihatkan auratnya kepada laki-laki, pamannya, dll, (sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an), dan ketika berita ini sampai ke telinga mereka, maka prinsip mereka hanya satu, yakni SAMI’NA wa ATHO’NA, kami dengar dan kami segera ta’at. Seluruh pasar-pasar di madinah, seluruh tempat-tempat di madinah menjadi riuh, karena para wanitanya yang saat itu sebagian besar tidak berkerudung, berlari ke sana kemari mencari segala sesuatu yang bisa menutupi rambut mereka, seperti goni, gorden rumah, dll. Subhanallaah, begitulah kita lihat bersama bagaimana mereka benar-benar hanya mengharapkan kebaikan di akhirat yang kekal abadi saja.

Dan ingatlah bahwa ayat itu tidak diturunkan khusus untuk orang Arab, tapi kalimatnya ditujukan untuk seluruh wanita-wanita mukmin, wanita-wanita yang benar-benar beriman kepada Penciptanya.

Saudariku sekalian, demikian 10 Jawaban yang saya susun, tiada lain kecuali berharap mengetuk pintu kesadaran saudariku sekalian untuk kembali kepada tuntunan suci Al Qur’an dan As Sunnah, agar jalan hidup kita menjadi lurus, dan mendapatkan kebaikan hidup baik di dunia maupun kehidupan akhirat kelak yang tidak memiliki batasan akhir kehidupan (kekal abadi). Apakah kita kekal dalam kebahagiaan, atau kekal dalam siksanya Allah, seluruhnya terpulang pada diri kita masing-masing. Tidak ada seorangpun yang berhak memaksa orang lain untuk berpaling dari keyakinannya, hanya kewajiban menyeru ke jalan Allah lah yang wajib ditunaikan.

Berfirman Allah SWT dalam Q.S. Al Baqarah : 272,

‘Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya’.

Oleh karenanya, janganlah kita termasuk kepada golongan orang-orang yang mengunci mati hati mereka dari datangnya petunjuk, menutup rapat-rapat telinga kita, sehingga hidayah semakin jauh dari kita. Bersegeralah menuju ridhonya Allah, di hari-hari hidup kita yang masih tersisa ini.

Allaahu a’lam, waliyyut taufiiq.

Maraaji’

– Al Qur’an

– As Sunnah

– Ila ukhti ghairil muhajjabah, mal maani’ minal hijab?, Abdul Hamid Al Bilaly

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.